Home > Corner

Kiprah Para Menak Sumedang Dulu dan Kini

Para menak Sumedang banyak berkontribusi bagi Indonesia sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Sri Radya Keraton Sumedang Larang, Rd. H. Ikik Loekman Soemadisoeria, tokoh menak bangsawan Sumedang (Foto dokumentasi penulis)
Sri Radya Keraton Sumedang Larang, Rd. H. Ikik Loekman Soemadisoeria, tokoh menak bangsawan Sumedang (Foto dokumentasi penulis)

Oleh: Engkus Kusmayati, penulis buku Menak Bangsawan Sumedang dan Jejak Sejarah Sumedang Menggapai Insun Medal Insun Madangan.

Diplomasi.Republika.co.id--Sumedang, sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Barat. Kota kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung di sebelah barat, sebelah utara dengan Kabupaten Subang, sebelah timur dengan Kabupaten Majalengka, dan sebelah selatan dengan Kabupaten Garut.

Dayeuh Sumedang memiliki cerita sejarah yang panjang. Kebudayaan luhur diwariskan oleh menak bangsawan Sumedang masa lampau.

Menak, "diemen-emen, dienak-enak", sebuah guyonan yang terucap dalam cerita rakyat. Menak, bangsawan, atau ningrat merupakan sekelompok masyarakat yang berdasarkan silsilah atau garis keturunan dari para raja, sultan, serta bupati pada masa lalu.

Menurut Selo Soemardjan dalam Pengantar Sosiologi, menak, bangsawan, atau ningrat ini merupakan kelompok sosial berdasar pada keturunan atau keluarga. Mereka juga termasuk kelompok "ascribed status", yaitu status atau kedudukan seseorang dalam masyarakat, tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran (Selo Soemardjan, 1990: 265).

Sumedang dikenal juga sebagai "Het Paradijs van Java" dan "Italia of the East". Jejak sejarahnya terekam pada situs, kearifan lokal, tradisi, kesenian, keris, gamelan, dan bangunan. Demikian pula, peninggalan dari para menaknya yang mempunyai prestasi dan prestise pada zamannya.

Zaman kerajaan dimulai dari Raja Prabu Aji Putih (678-721 Masehi), Prabu Tajimalela (721-778 M), dan Prabu Lembu Agung (778-838 M). Cikal bakal kerajaannya bernama Tembong Agung, yang dikenal juga dengan nama "Himbar Buana". Kerajaan ini berkedudukan di Leuwihideng Darmaraja.

Kerajaan Sumedang Larang dimulai pada zaman Raja Prabu Gajah Agung. Sang raja memindahkan Kerajaan Tembong Agung dari Darmaraja ke Ciguling Sumedang Selatan, sekarang wilayah Pasanggrahan Sumedang Selatan.

Tertulis pula beberapa raja. Ada nama Sunan Guling, Sunan Tuakan, Ratu Pucuk Umun, dan yang terakhir Prabu Geusan Ulun.

Prabu Geusan Ulum memerintah pada 1578-1601 M. Sumedang pun meraih kejayaan yang mirip dengan masa leluhurnya. Akan tetapi, pada saat pemerintahan beliau juga, Kerajaan Sumedang Larang mengalami kemunduran. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, antara lain keluasan wilayah, keamanan, pengawasan yang kurang, dan peperangan dengan Cirebon.

Zaman kabupatian dimulai pada masa pemerintahan Rangga Gede, anak Prabu Geusan Ulun. Beliau memerintah di Sumedang atas kekuasaan Mataram pimpinan Sultan Agung. Babak sejarah baru terpatri kala itu.

Kabupatian Sumedang pun mengalami beberapa pemerintahan. Dari zaman VOC, kolonial Belanda, zaman Jepang, berlanjut sampai Sumedang masa kini.

Zaman Kabupatian Sumedang melahirkan bupati-bupati tersohor. Sebut saja Pangeran Rangga Gede yang menjadi opperegent Priangan, Pangeran Panembahan, Dalem istri Rajamantri, Pangeran Kusumadinata IX atau Kornel, Pangeran Aria Suria Kusumah Adinata atau Pangeran Sugih, dan Pangeran Aria Suria Atmaja atau Pangeran Mekkah.

Figur-figur tersebut menjadi perwakilan dari sekian para bangsawan Sumedang, yang menjadi pembesar Sumedang pada masanya. Prestasi dan dedikasi ditorehkan mereka untuk kejayaan Sumedang.

Dalam sejarah Sumedang, menak bangsawan laki-laki dan perempuan punya kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Bahkan, kiprah menak bangsawan perempuan tidak kalah dari menak laki-laki.

Nama-nama menak bangsawan perempuan tersebut, yakni Ratu Rajamantri, Ratu Patuakan, Dalem Rajaningrat, dan Ratu Inten Dewata atau Pucuk Umun. Mereka dapat menjadi teladan dan inspirasi bagi kaum hawa Sumedang pada masa kini.

Sementara itu, bupati-bupati terpilih, antara lain Pangeran Rangga Gede, Pangeran Panembahan, Pangeran Karuhun, Pangeran Kusumadinata IX, Pangeran Aria Suria Kusumah Adinata, dan Pangeran Aria Suria Atmaja. Mereka mendapat penghargaan karena berjasa dalam mengolah dan memajukan Sumedang.

Penghargaan yang diperoleh, seperti medali Gold ster, Payung Jene, gelar Kolonel, bahkan hadiah berupa bangunan Lingga yang dibangun di tengah Alun-Alun Sumedang.

Lingga tersebut merupakan bentuk penghargaan pemerintah Belanda kepada Pangeran Aria Suria Atmaja. Atas ide, gagasan, dan karyanya, beliau berhasil 'memodernisasikan' Sumedang pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Menak Sumedang kini

Tokoh pemimpin menak bangsawan Sumedang, R. H. Ikik Loekman Soemadisoeria (Sri Radya Keraton Sumedang Larang) mengungkapkan silsilah menak Sumedang. Menurut beliau, menak Sumedang adalah semua keturunan dari leluhur yang lahir dari istri padmi dan bukan dari selir. Dengan begitu, jelas keturunan dan hierarkinya.

"Menak bangsawan Sumedang adalah para keturunan dari eyang buyut kami dari Pangeran Sugih, yang lahir dari permaisuri atau istri padmi Pangeran Sugih," katanya dalam wawancara pada 23 Februari 2021.

Sistem kekerabatannya merupakan kombinasi dari patrilineal dan matrilineal. Dan ini menguatkan ikatan kekeluargaan bagi menak bangsawan Sumedang.

Sistem kepemilikan tanah yang berawal dari feodalisme masih ada dan menjadi kekayaan dari Keraton Sumedang Larang. Lembaga Keraton Sumedang Larang menjadi salah satu tempat berkiprahnya para menak masa kini, terutama dalam memajukan kebudayaan nasional.

Menurut Sri Radya R. H. Ikik Loekman Soemadisoeria, menak itu sudah ditakdirkan sebagai pemilik hak waris untuk menjadi menak bangsawan. "Keraton Sumedang Larang pun sebagai centrum (pusat) kebudayaan menak dan Sumedang," katanya.

Di dalam keraton, tersimpan hasil memori kolektif dari pewaris keraton Sumedang masa lalu, yang masih relevan dengan perkembangan zaman. Belajar sejarah masa lalu dapat ditarik ke dunia masa kini, yang penuh dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Adapun, Radya Luky Djauhari Soemawilaga mengatakan, menak itu adalah orang yang memiliki iktikad baik dan secara nyata, memberikan dampak kebaikan kepada masyarakat. Raden sama dengan Rahadian, dalam dirinya melekat jiwa yang luhur, juga memiliki norma, nilai, pakem, dan ageman Sunda.

Keraton Sumedang Larang sebagai pusat kebudayaan, merupakan tempat dari hasil peradaban sekelompok manusia, yang tentunya keturunan ningrat, priyayi, dan bangsawan Sumedang.

Hasil tersebut berupa filosofi, ageman, nilai, adat istiadat, kearifan lokal, warisan benda, dan takbenda, yang dapat menjadi pengetahuan dalam pengembangan kebudayaan. Semua itu berorientasi pada kepentingan bersama bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Sumedang.

Tentang menak bangsawan Sumedang kini, dijelaskan Paduka Yang Mulia Sri Radya Keraton Sumedang Larang. Dengan segala tekad, mereka ikut berkontribusi dalam pengembangan untuk memperkuat akar kebudayaan nasional.

"Perlu diingat, dahulu sebelum datangnya penjajahan, nusantara ini terdiri atas kerajaan-kerajaan kecil dan besar. Kerajaan tersebut hidup dalam penuh kesatuan untuk nusantara."

Sekarang, dalam bagian dari pengembangan kebudayaan nasional, Keraton Sumedang Larang ikut berpartisipasi pada kegiatan Majelis Adat Keraton Nusantara sebagai anggota dan Dewan Keraton Nusantara.

Keraton Sumedang Larang juga berhasil melaksanakan event nasional berupa Festival Adat Keraton Nusantara. Festival ini diselenggarakan pada 27 hingga 30 September 2021.

Salah satu tokoh menak bangsawan Sumedang masa kini, Yang Mulia R. Rafiq Hakim Radinal termasuk jajaran Executive Committee National Olympic of Indonesia atau Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Dia mengungkapkan, kisah menak Sumedang tercatat dalam sejarah Parahyangan.

Para menak Sumedang banyak berkontribusi bagi Indonesia sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Contohnya di bidang politik dan pemerintahan, ada tokoh R. Ali Sadikin dan R. Umar Wirahadikusumah.

Sekarang ini para menak Sumedang masih eksis dalam memajukan dan mengangkat jati dirinya. Mereka yang "tandang makalangan" berkontribusi sesuai dengan konteks dan jiwa zamannya. “The descendents of noble should have ahead without neglected our values, we are great because the merits of our ancestors," ujarnya. (rin)

*Tulisan kiriman pembaca Diplomasi.republika.co.id. Isi tulisan dan konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

* Kontak kami: diplomasi@rol.republika.co.id

× Image