Home > Serba Indonesia

Mengenal Tradisi Pabiola, Pagambusu, dan Pakacapi--1

Sebuah catatan perjalanan (hari pertama).
Pertunjukan tradisi lisan yang dibawakan oleh 'seniman pedalaman' (foto dokumentasi pribadi)
Pertunjukan tradisi lisan yang dibawakan oleh 'seniman pedalaman' (foto dokumentasi pribadi)

Oleh: Muhammad Fadhly Kurniawan, Peneliti Transkrip Tradisi Lisan Indonesia, Alumnus Magister Kajian Tradisi Lisan (Budaya Pertunjukan) Universitas Indonesia

Diplomasi.Republika.co.id--Pelosok, gelap, berlumpur, bahkan tidak ditemukan dalam aplikasi google maps. Itulah kondisi realitas perjalanan saya bersama Arif Daeng Rate, Aco, dan Adit beberapa waktu lalu.

Namun, di balik itu, kami jumpai banyak pengalaman seru dan baru. Kami menyaksikan langsung beragam jenis flora dan fauna endemik, pemandangan karts dan hutan batu, kualitas udara yang segar, keramahan penduduk lokal, serta fenomena yang sulit dideskripsikan secara rasional.

Catatan ini berangkat dari hasil silaturahim dengan Kak Iwan Dento—penggagas Desa Wisata Rammang-rammang. Kegiatan dilaksanakan pada 20-21 November 2021, di Dusun Rammang-rammang-Salenrang, Bontoa-Maros, Sulawesi Selatan.

Kampung Massaloeng dipercaya masyarakat adat Salenrang sebagai kampung tertua di sekitar Rammang-rammang. Bahasa yang digunakan masyarakat setempat ialah bahasa Mangkasara atau Makassar. Pelabelan sebagai kampung tua tentu memiliki nilai historis yang kaya pemaknaan, termasuk ekosistem kesenian yang dimilikinya.

Menurut warga sekitar, kesenian yang masih bertahan, yaitu seni tutur yang dipentaskan dengan instrumen biola (pabiola), gambus (pagambusu), dan kacapi (pakacapi). Suatu hal yang unik ialah mereka menggunakan biola sebagai seni tutur yang—mungkin—dapat diasosiasikan dengan Sinrilik.

Pabiola Makassar sudah sangat jarang ditemui, bahkan yang saya ketahui bahwa hanya Bapak Aca (sanggar I Lolo Gading-Paropo) yang masih menggunakan biola sebagai seni tutur. Pertanyaan kemudian muncul, bagaimana proses terciptanya kesenian tutur di kampung tua tersebut?

Menurut analisis saya saat di lokasi, seniman di Kampung Massaloeng hanya tersisa kurang dari 10 orang, pun yang masih dikategorikan aktif, di antaranya Bapak Udin (70 tahun), Bapak Inca (60), dan Bapak Jhon (50). Masing-masing mereka mampu memainkan instrumen biola, gambusu, dan kacapi.

Pada kesempatan kali ini, saya sangat terharu dan merasa beruntung karena dapat menyaksikan seniman ‘pedalaman’ secara langsung di kampung bersejarah tersebut. Umumnya, pertunjukan atau kesenian mereka ditampilkan pada saat diminta oleh para wisatawan yang hadir di sekitar kawasan wisata Rammang-rammang. Namun, semenjak pandemi hingga hari ini, rasio pertunjukan diakuinya sangat merosot tajam, sangat menyedihkan.

Kunjungan kami ke kampung ini merupakan rangkaian festival seni tutur yang diprakarsai oleh Kak Iwan Dento pada Sabtu malam. Pertunjukan dijadwalkan mulai pada pukul 19.00 WITA. Namun, hujan turun cukup deras. Panggung dan lokasi pertunjukan sepertinya tidak memungkinkan untuk diadakan pertunjukan. Kegiatan ditunda hingga hujan reda. Sembari itu, kami tudang sipulung atau berkumpul bersama para seniman di Rumah Kedua milik Kak Iwan Dento.

Di tengah derasnya hujan, kami bercuap-cuap (mengobrol) mengenai aktivitas dan banyak hal mengenai latar belakang masing-masing. Lingkaran tersebut begitu hangat, mungkin karena ditemani kopi panas dan cemilan, ah nikmat sekali.

Hampir setengah jam berselang, Daeng Rate dibujuk untuk melantunkan intro Sinriliknya. Akhirnya, saat Sinrilik dimainkan, para seniman lain ikut “panas”. Bapak Inca langsung mengambil biolanya dan meniru pola yang dimainkan Daeng Rate. Duet maut musik pun terjadi secara spontan. Seketika saya takjub melihat momen itu, entah apakah tiruan pola yang dilakukan Pak Inca merupakan kemampuan auralnya, atau memori kecil beliau mengenai lantunan kesok-kesok terpanggil? Semua penonton mengambil posisi masing-masing, terutama mereka yang membawa alat rekam tidak ingin melewatkan momen itu.

Sekitar jam delapan malam lewat, hujan reda. Semuanya diarahkan untuk menuju area panggung, tepatnya di belakang Rumah Kedua. Akhirnya, silih berganti pertunjukan disaksikan di atas panggung ukuran 3x4 itu. Uniknya, beragam ekspresi dan respons penonton riuh di antara sela-sela pertunjukan. "Heyya, porena bela!", "Gesoki naak!", dan lain-lain.

Malam itu sangat istimewa bagi kami karena dapat menyaksikan langsung panggung organik kesenian kampung tua Marusu. Entah apakah beberapa tahun kemudian pertunjukan seperti ini masih terawat? Sepertinya betul-betul sudah diambang punah. Karena pada malam itu, hampir tidak ditemui—generasi khususnya pemuda—penerus pemain seni tutur Kampung Massaloeng. Sungguh sangat memprihatinkan.

Seusai panggung kolektif terlaksana, kami diarahkan untuk istirahat ke rumah Kak Nas. Jaraknya tidak jauh dari Rumah Kedua. Ternyata rumah Kak Nas merupakan home stay yang sering didatangi para pelancong lokal ataupun mancanegara. Rumahnya juga telah tersertifikasi resmi sebagai rumah singgah tamu wisata Rammang-rammang.

Sungguh syahdu suasana malam di teras rumah panggung Kak Nas. Suara hewan-hewan lokal menyambut kedatangan kami sepanjang jalan; suara para nokturnal jangkrik, kodok, burung, dan lain-lain, bersatu membuat ansambel akustik mengiringi makan malam kami. Selamat malam, ‘para musisi lokal’. (Bersambung di tulisan kedua) (rin)

* Tulisan kiriman pembaca Diplomasi.republika.co.id. Isi tulisan dan konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

* Kontak kami: diplomasi@rol.republika.co.id

× Image