Home > Bisnis

Kisruh di Laut Merah, Kiriman Kopi Indonesia ke Eropa Telat

Sekitar 60 persen kopinya dikirimkan ke Eropa setiap tahunnya.
Biji kopi yang ditimbang di Dunia Kopi, Pasar Santa, Jakarta, Selasa (14/3/2023) Ilustrasi (Republika/Putra M Akbar)
Biji kopi yang ditimbang di Dunia Kopi, Pasar Santa, Jakarta, Selasa (14/3/2023) Ilustrasi (Republika/Putra M Akbar)

LONDON – Pergolakan di Laut Merah telah melahirkan dampak bagi perdagangan dunia. Perniagaan kopi khususnya di Eropa juga mengalaminya. Hal tersebut diungkapkan para pedagang kopi dan pengamat industri komoditas tersebut.

Mereka mengungkapkan, serangan Houthi ke kapal-kapal dagang yang melintasi Laut Merah, memicu melonjaknya ongkos pengangkutan coffee roasters ke Eropa meski kopi tersebut juga belum tentu bisa segera didistribusikan kepada konsumen besar.

Tarif kontainer dengan rute Asia-Eropa telah naik gila-gilaan, bahkan bisa mencapai 150 persen. Akibatnya, biji kopi yang hendak diekspor ke Eropa dari produsen kopi robusta ternama, seperti Indonesia dan Vietnam tertunda hingga tiga pekan.

Penyebabnya, kapal pengangkut mesti menggunakan rute alternatif, yakni melalui Tanjung Harapan, Afrika. Biasanya mereka menggunakan rute Terusan Suez-Laut Merah dengan jarak tempuh lebih pendek dan lebih cepat serta biaya lebih murah.

Kondisi yang runyam ini mendorong pedagang kopi Eropa mencari pasokan alternatif biji kopi dari negara-negara lainnya, termasuk Brasil dan Uganda. Para pialang juga menyatakan, harga biji kopi di kawasan sudah naik dan tentu saja akan lebih mahal dibeli pedagang.

‘’Kami berharap para roasters tak membebankan kenaikan harga ini ke konsumen dalam waktu dekat ini sebab terjadi persaingan harga di supermarket,’’ kata para pedagang dan pengamat industri kopi, Rabu (17/1/2024).

Banyak perusahaan global mencari rute pengapalan selain melintas Laut Merah, yang selama ini menghubungkan ke Mediterania melalui Terusan Suez. Ini merupakan rute terpendek antara Eropa dan Asia dan 12 persen lalu lintas pengapalan dunia menggunakan rute ini.

‘’Kami lihat pemesanan baru menurun (dari Eropa) seiring kian beratnya ongkos pengapalan yang harus ditanggung pembeli. Kami sangat prihatin. Biasanya, puncak tahunan ekspor kopi berlangsung saat ini,’’ ujar seorang eksekutif pada perusahaan ekspor kopi Vietnam.

Menurut dia, sekitar 60 persen kopinya dikirimkan ke Eropa setiap tahunnya. Seorang pedagang kopi berbasis di Eropa percaya gangguan pengapalan di Laut Merah akan memengaruhi kenaikan harga kopi robusta dalam jangka panjang.

‘’Harga ini berlangsung sementara, tetapi untuk jangka menengah hingga jangka panjang, ini hanya seperti cegukan yang segera berakhir. Kopi akan ada di sana, tiba di tempat tujuan,’’ katanya. (reuters/han)

× Image