Home > Bisnis

Negara-Negara BRICS Dukung Kemerdekaan Palestina

KTT tersebut mencerminkan rasa tanggung jawab negara-negara BRICS.
Pertemuan BRICS (Xinhua/Huang Jingwen)
Pertemuan BRICS (Xinhua/Huang Jingwen)

DIPLOMASI REPUBLIKA, BEIJING -- Para pemimpin BRICS pada Selasa (21/11/2023), berkumpul untuk pertemuan KTT BRICS yang dilangsungkan secara virtual. Mereka membahas isu yang terjadi di Timur Tengah, terutama Palestina-Israel.

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, memimpin pertemuan tersebut. Pertemuan itu dihadiri para pemimpin dari Cina, Brasil, Rusia, Arab Saudi, Mesir, Iran, Uni Emirat Arab, Ethiopia, serta menteri luar negeri dari India dan Argentina.

Dalam pernyataan yang dikutip Xinhua pada Kamis (23/11/2023), para pemimpin mengungkapkan keprihatinan besar atas situasi Palestina-Israel dan mengutuk semua tindakan kekerasan terhadap warga sipil. Mereka menekankan perlunya perlindungan warga sipil sesuai dengan hukum humaniter internasional, dan menyerukan gencatan senjata kemanusiaan yang berkelanjutan, serta pengiriman bantuan kemanusiaan.

Selain itu, mereka menegaskan pentingnya menyelesaikan perselisihan melalui dialog, dan menyuarakan dukungan terhadap semua upaya penyelesaian krisis secara damai. Para pemimpin BRICS juga menyerukan masyarakat internasional untuk mendukung solusi yang adil terhadap permasalahan Palestina, dan mendorong realisasi solusi dua negara, termasuk pembentukan Negara Palestina merdeka yang memiliki kedaulatan penuh.

Presiden Cina, Xi Jinping, turut menghadiri pertemuan tersebut. Dalam pidatonya, Xi mengatakan bahwa pihak-pihak yang berkonflik harus mengakhiri permusuhan dan segera mencapai gencatan senjata. Dia juga meminta semua pihak untuk menghentikan semua kekerasan dan serangan terhadap warga sipil, termasuk membebaskan warga sipil yang ditawan.

"Koridor kemanusiaan harus tetap aman dan tidak ada hambatan, dan lebih banyak bantuan kemanusiaan harus diberikan kepada penduduk di Gaza," kata Xi.

Menurut dia, komunitas internasional harus mengambil tindakan praktis untuk mencegah konflik meluas dan membahayakan stabilitas di Timur Tengah secara keseluruhan.

Ia menekankan bahwa cara yang layak untuk memutus siklus konflik Palestina-Israel terletak pada solusi dua negara, pemulihan hak-hak nasional Palestina yang sah, dan pembentukan Negara Palestina yang merdeka.

Disebutkan Xi, Cina menyerukan diadakannya lebih awal konferensi perdamaian internasional, yang lebih otoritatif untuk membangun konsensus internasional bagi perdamaian. Selain itu, berupaya mencapai solusi awal atas Palestina yang komprehensif, adil, dan berkelanjutan.

Xi mengatakan ini adalah pertemuan puncak pertama sejak perluasan BRICS. Menurut dia, pertemuan ini menjadi momen yang tepat untuk menyuarakan keadilan dan perdamaian dalam masalah Palestina-Israel.

“Konflik di Gaza sudah memasuki bulan kedua. Cina sangat prihatin bahwa konflik tersebut menyebabkan banyak korban sipil serta bencana kemanusiaan, dan cenderung meluas,” katanya.

Dia menegaskan, apa yang terjadi pada masyarakat di Gaza dalam bentuk pemindahan atau perampasan paksa serta pemutusan air, listrik, dan bahan bakar harus dihentikan.

"Semua pihak harus bertindak untuk mewujudkan resolusi Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan melalui tindakan nyata di lapangan," kata Xi.

Xi menjelaskan akar permasalahan dari situasi Palestina-Israel adalah kenyataan bahwa hak rakyat Palestina untuk menjadi negara, hak untuk hidup, dan hak untuk kembali telah lama diabaikan. Ia mengatakan tidak akan ada perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan di Timur Tengah tanpa solusi yang adil terhadap masalah Palestina.

Sejak pecahnya konflik Palestina-Israel terbaru, menurut dia, negaranya telah bekerja secara aktif untuk mendorong perundingan damai dan gencatan senjata.

"Cina telah memberikan bantuan kemanusiaan untuk membantu meringankan penderitaan kemanusiaan di Gaza, dan akan memberikan lebih banyak pasokan dan bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Gaza," katanya menegaskan.

Di Dewan Keamanan PBB, menurut Xi, Cina telah bertindak sesuai dengan kapasitasnya untuk memfasilitasi penerapan resolusi tersebut. Di antaranya, menyerukan perpanjangan jeda dan koridor kemanusiaan, perlindungan warga sipil, dan penyediaan bantuan kemanusiaan.

Xi mengatakan, pertemuan untuk mengoordinasikan posisi dan tindakan mengenai konflik Palestina-Israel menandai awal yang baik untuk kerja sama BRICS selanjutnya. Negaranya pun, menurut Xi, siap bekerja sama dengan anggota lainnya.

Direktur Pusat Studi Kerja Sama BRICS di Beijing Normal University, Wang Lei, mengatakan KTT tersebut mencerminkan rasa tanggung jawab negara-negara BRICS, seruan mereka untuk perdamaian dan stabilitas internasional, dan konsensus mereka terhadap beragam masalah yang menjadi pembahasan. (zed)

× Image