Home > Bisnis

Trade Defisit Indonesia dan China Terus Menurun

Pada Triwulan I 2022, penurunan nilai defisit mencapai 47,99 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya.
Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun saat mengunjungi salah satu gerai pameran di Beijing. (Dok. KBRI Beijing)
Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun saat mengunjungi salah satu gerai pameran di Beijing. (Dok. KBRI Beijing)

DIPLOMASI REPUBLIKA, BEIJING -- Perdagangan Indonesia dan China pada triwulan I 2022 dilaporkan naik 31.14 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Menurut data kepabenan China, kenaikan itu mencapai 32,76 miliar dolar AS dari 24,98 miliar dolar AS.

"Total nilai ekspor Indonesia ke China periode ini mencapai 16,28 miliar dolar AS, atau tumbuh sebesar 32,32 persen dibandingkan nilai total ekspor tahun sebelumnya dalam periode yang sama, yang mencapai 12,31 miliar dolar AS," kata Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun mengutip data, dalam keterangan tertulis yang diterima Diplomasi Republika, Sabtu (28/5).

Total nilai impor Indonesia dari China periode ini mencapai 16,47 miliar dolar AS. Ini mengalami peningkatan sebesar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya dalam periode yang sama, yang mencapai 12,67 miliar dolar AS.

Pada periode ini, Indonesia tercatat mengalami trade defisit dari China sebesar 190,79 juta dolar AS. Namun demikian, nilai trade defisit ini terus mengalami penurunan.

Pada Triwulan I 2022, penurunan nilai defisit mencapai 47,99 persen dibandingkan dengan nilai trade defisit yang dialami Indonesia pada 2021 dalam periode yang sama, sebesar 366,81 juta dolar AS.

Sejumlah produk mengalami lonjakan ekspor secara signifikan tahun ini ini dibandingkan dengan periode sama pada 2021. Besi dan Baja (HS 72) dengan nilai ekspor mencapai 4,41 miliar dolar AS atau tumbuh 72,35 persen. Bijih logam, terak, dan abu (HS 26) memiliki nilai ekspor mencapai 1,01 miliar dolar AS atau meningkat 109,29 persen.

Aneka produk kimia (HS 38) dengan nilai ekspor mencapai 687,53 juta dolar AS, meningkat 65,17 persen. Nikel dan turunannya (HS 75) dengan nilai ekspor 501,64 juta dolar AS, meningkat 1324300,52 persen.

Bahan kimia organik (HS 29) dengan nilai ekspor 270,60 juta dolar AS, meningkat 107,37 persen. Timah dan turunannya (HS 80) dengan nilai ekspor 115,06 juta dolar AS, meningkat 283,61 persen.

Bahan kimia anorganik (HS 28) dengan nilai ekspor 82,42 juta dolar AS, meningkat 78,40 persen. Biji dan buah mengandung minyak (HS 12) dengan nilai ekspor 64,53 juta dolar AS, meningkat 67,27 persen. Logam tidak mulia lainnya (HS 81) dengan nilai ekspor 61,55 juta dolar AS, meningkat 154712,36 persen.

Sabun, bahan aktif permukaan organik, preparat pembersih (HS 34) dengan nilai ekspor 37,78 juta dolar AS, meningkat 59,43 persen. Serat stapel buatan (HS 55) dengan nilai ekspor 27,66 juta dolar AS, meningkat 69,31 persen.

Aluminium dan turunannya (HS 76) dengan nilai ekspor 22,41 juta dolar AS, meningkat 69,66 persen. Produk keramik (HS 69) dengan nilai ekspor 13,52 juta dolar AS, meningkat 71,97 persen.

Bulu dan bulu halus unggas olahan; bunga tiruan; barang dari rambut manusia (HS 67) dengan nilai ekspor 3,94 juta dolar AS, meningkat 165,95 persen. Serat tekstil nabati lainnya (HS 53) dengan nilai ekspor 2,38 juta dolar AS, meningkat 70,09 persen.

Sementara itu, sesuai rilis Kementerian Investasi/BKPM RI pada 27 April 2022, investasi China di Indonesia pada Triwulan I 2022 di Indonesia tercatat sebesar 1,4 miliar dolar AS, meningkat 40 persen yoy. Pada Triwulan I 2021, realisasi investasi China mencapai sebesar 1,0 miliar dolar AS. Dengan angka tersebut, China menjadi negara investor ke-3 terbesar di Indonesia setelah Singapura dan Hong Kong. (yen)

× Image