Layak di Tiru, Kampung Ini Terapkan Budaya K3. Ini Dia Kampungnya

Setelah sukses membuat berbagai terobasan dan inovasi Kampung Edukasi Sampah yang berada Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, Jatim ini kembali membuat program baru yakni keperdulian keselamatan bagi warganya dengan membudayakan Keselamatan & Kesehatan Kerja (KK3)

0
108
Salah satu warga Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo terus memberi sosialisasi budaya K3 pada masyarakat sekitar (Foto : Dok. Nawalanews)

SIDOARJO – NAWALA : Setelah sukses membuat berbagai terobasan dan inovasi Kampung Edukasi Sampah yang berada Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, Jatim ini kembali membuat program baru yakni keperdulian keselamatan bagi warganya dengan membudayakan Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)

Ketua RT sekaligus pengelola Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto mengatakan, dirinya sengaja membuat program tersebut bersamaan dengan momentum bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional yang pada tahun 2020 ini yang bersamaan dengan 50 tahun diberlakukannya undang-undang K3 di Indonesia.

“Selama ini yang menjadi perhatian dalam penerapan K3 adalah hanya pada pekerjaan formal saja seperti pada industri dan perusahaan, sedangkan aktifitas non formal seperti aktifitas keseharian yag dilakukan oleh warga dalam masyarakat banyak luput dari perhatian bersama,” terang Edi di Sidoarjo, Jumat (17/1/2020)

Edi kembali menjelaskan, guna menunjang programnya, beberapa aktifitas yang dilakukan bersama warga diantaranya aktifitas tanggap darurat, yaitu mekanisme apabila terjadi keadaan darurat di wilayahnya, seperti kebakaran, gempa bumi, warga sakit/kecelakaan mendadak, warga meninggal, dan lain-lain. Warga yang tergabung dalam tim diberikan pembekalan dan latihan secara berkala bagaimana melakukan evakuasi warga, teknik pemadaman terhadap kejadian kebakaran awal, cara membawa korban kecelakaan/sakit menuju Puskesmas/Rumah Sakit terdekat.

“Sebagai prasarana tanggap darurat pihaknya juga telah menyiapkan berbagai sarana pendukung, misalnya untuk pelaksanaan evakuasi keadaan darurat dirinya sudah memasang tanda arah dan rute evakuasi hingga menetapkan lokasi titik kumpulnya (assembly point,” ujarnya

Sementara untuk penanggulangan kebakaran awal di Rtnya. Edi mengungkapkan, pihaknya juga telah menyiagakan alat pemadam api ringan (APAR) yang telah terpasang pada beberapa titik, disamping itu juga disediakan alat pemadam api tradisional (APAT) yag terdiri dari pasir, karung goni serta pengait.

Sebagai sarana transportasi untuk membantu evakuasi, dirinya juga telah menyiapkan mobil siaga, mobil yang disiagakan untuk membawa warga yang sakit/celaka ke rumah sakit terdekat. Mobil ini merupakan milik warga denga teknis pelaksanaan dilakukan penjadwalan bergilir antar mobil warga satu dengan lainnya.

Terhadap tamu atau pengunjung tang datang di wilayah ini juga diberikan induksi / briefing tentang keselamatan dan kesehatan di area tersebut. Pengunjung/tamu akan ditunjukkan lokasi titik kumpul, arah evakuasi, hingga bagaimana klo kondisi sakit tiba-tiba serta menginformasikan bahwa wilayah yang tidak diperbolehkan untuk merokok.

Pemisahan wilayah mana yang diperbolehkan merokok hingga wilayah yang menjadi larangan merokok lengkap dengan rambunya. Ini dilakukan dalam rangka memberikan jaminan kesehatan bagi warganya khususnya pada ibu hamil dan anak-anak agar tidak terpapar asap rokok.

Guna mengatur ketertiban lalu lintas, pihaknya juga telah memasang rambu-rambu lalu lintas dan rambu informasi lainnya untuk memudahkan bagi warga maupun tamu yang berkunjung.

Telah diatur juga tempat khusus untuk parkir (dengan cara mundur sebagai bentuk antisipasi terhadap keselamatan), dan ditetapkan pula lokasi mana saja yang tidak diperbolehkan parkir (larangan parkir).

Tak hanya itu saja kata Edi, guna meningkatkan kebugaran warga dilakukan kegiatan senam pagi bersama dan juga diselenggarakan kegiatan bersepeda bersama mengelilingi rute di sekitaran Sidoarjo.

“Selanjutnya dalam hal pemantauan kesehatan warga, kami secara rutin bersama petugas kesehatan dari Puskesmas Sekardangan melakukan pemeriksaan kesehatan warga melalui program Posbinda maupun Posyandu sehingga apabila dijumpai ,” katanya

“Mereka juga memiliki Kelompok Asuhan Mandiri Tanaman Obat Keluarga dan Akupresur sebagai upaya untuk menjaga dan mengobati gangguan kesehatan secara mandiri, yakni dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga (toga) dan ketrampilan akupresur,” pungkas Edi (Lis/NNC 01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here